Sabtu, 03 Juli 2010
Rabu, 30 Juni 2010
Sabtu, 07 Februari 2009
Learning Mime Autodidact
Jemek Supardi, born in Pakem, Sleman regency, Yogyakarta, March 14, 1953. Background of secondary school education and only three months of tasting Programs High School Painting Indonesian Arts (SMSRI). At first she pursue theater and had been in several theater groups, such as the Natural Theatre, Theatre and Puppet Theatre Dinasty. Because he had difficulty in memorizing the script, he eventually pursue pantomime as channeling desire expression.
Rabu, 04 Februari 2009
Pantomim Kita bagai Api dalam Sekam
Beberpara tahun lalu, kampiun pantomim asal Yogyakarta, Jemek Supardi, menggelar karyanya bersama teman-temannya dari Mime Theater, di Bentara Budaya Jakarta. Pagelaran itu untuk menandai ulang tahun Jemek yang ke-50. Selebihnya, seni pantomim berdiri lunglai, sepi di lengkungan tanda tanya.Jakarta, yang pernah menjadi barometer kehidupan seni di Tanah Air pada dekade 70-an, lewat Taman Ismail Marzuki-nya, seolah kerontang dari pantomim. Celakanya, ketika seorang teman penulis bermain pantomim, orang mengira ia badut sirkus. Padahal, seni pantomim boleh dikatakan menjadi dasar permainan teater, yang mengolah kelenturan tubuh dan kepiawaian ekspresi, mimik. Beruntung sekali Didi Petet masih mengopeni cabang seni ini, walau pun telah disenyawakan dengan seni teater. Apa boleh buat, dari pada tidak sama sekali. Didi Petet sendiri sempat lama absen dalam pagelaran besar seperti sekarang ini setelah beberapa tahun yang lampau berkeliling dengan grupnya ke kota-kota besar di Pulau Jawa.
Minggu, 09 September 2007
Makelar Peti Mati
HIDUP dengan hanya menggantungkan penghasilan dari bermain pantomim, jelas mustahil. Hal ini mengingat jarang sekali pertunjukan yang melibatkan seni pantomim. Dalam sebulan, belum tentu ia bisa manggung dua kali, dan ini disadari betul oleh Jemek Supardi.
“Nggak mungkin bisa hidup hanya mengandalkan penghasilan dari main pantomim. Kalau ada order, paling saya hanya dibayar sekitar Rp 500.000, sementara untuk hidup bersama satu anak dan satu istri dalam sebulan jelas lebih dari penghasilan saya sekali pentas,” ungkapnya.
Kamis, 23 Agustus 2007
Jemek Supardi, Man Without Words
Born from the dark. About thirty years ago, Pardi Kampret, now known by the name Jemek Supardi, grew up in the middle of the terminal noise Prawirotaman, Yogyakarta, the main terminal Gudeg City at that time. At night the lights are dim Tugu Station. Noon is a parking sweat along Jalan Malioboro.
Slender, long-haired with a forehead that membotak mengakrabi dark area towns. Like the other inhabitants of the world, he lives with in Sekatenan pilfer, steal jewelry corpse, cliwik gambling, playing cards, and hanging out with prostitutes on the railroad. Because of this life, the man born Pakem, Sleman, Yogyakarta, March 4, 1953 it had only graduated from junior high school after school instead of seven times, after not graduating from elementary school to the next grade three times, and three months of tasting Programs High School Painting Arts of Indonesia. However, the way her life changed when he knew the art.
Minggu, 19 Agustus 2007
Thanks Mime know Tombs Unloading Cargo
Speaking pantomime can not be separated from the name Jemek Supardi. Why not, until now he has 27 years to cultivate and devoted his life in the world of pantomime who admitted less popular compared to other art world.
"What can make. This has been my choice. There's no way I turned to another art. In addition to my old age, I also see the world of mime is suitable with me, "said Jemek, gentleman born Yogyakarta, March 14, 1953.
"What can make. This has been my choice. There's no way I turned to another art. In addition to my old age, I also see the world of mime is suitable with me, "said Jemek, gentleman born Yogyakarta, March 14, 1953.
Langganan:
Postingan (Atom)



